Bagaimana memahami ilmu menggunakan pendekatan filsafat dan apakah filsafat berpengaruh besar terhadap ilmu-ilmu yang lain? Tiga pilar filsafat yaitu aksiologi, ontologi dan epistimologi.
• Hubungan ontologi dengan ontologi yaitu mengenai hakekat. Manusia tidak tahu apa sebenarnya hakekat dari suatu hakekat, yang tahu hanya Tuhan.
• Hubungan antara ontologi dengan epistimologi yaitu merupakan hakekat dari metode. Epistimologi menghubungkan antologi dengan aksiologi, jadi ontologi dan epistimologi tidak dapat dipisahkan.
• Hubungan antara ontologi dan aksiologi yaitu hakekat antara baik dan buruk. Bahwasanya dalam filsafat itu segala sesuatu merentang dan berdimensi. Merentang mulai dari objek material(tubuh), formal(tulisan), normatif(pikiran), spiritual(do’a) . Hakekat baik-buruk, tergantung sudut pandang setiap orang. Belum tentu hal yang kita anggap baik akan baik pula bagi orang lain. Sama halnya apa yang kita anggap buruk akan buruk pula bagi orang lain. Bahkan terkadang kita sendiripun bisa berpandangan berbeda, sekarang kita bisa mengatakan sesuatu itu baik, tapi bukan tidak mungkin dalam beberapa detik saja kita bisa mengatakan sesuatu itu buruk. Jadi hakekat baik-buruk tergantung waktu dan siapa yang memandangnya, setiap orang mempunyai pemikiran berbeda-beda.
• Hubungan antara epistimologi dan ontologi yaitu mengenai metode menggapai hakekat.
• Hubungan antara epistimologi dan epistimologi yaitu mengenai kebenaran suatu metode. Hakekat suatu metode misalnya jika seseorang ingin tahu akan sesuatu maka tidak mungkin seseorang itu tidak berusaha untuk cari tahu.
• Hubungan epistimologi dengan aksiologi yaitu mengenai metode untuk mengungkapkan baik-buruk dan menyatakan sesuatu dengan sopan dan santun.
• Hubungan aksiologi dengan ontologi yaitu mengenai baik buruknya suatu hakekat. Mengenai etika dan estetika kita pada waktu bicara harus sesuai pada tempatnya.
• Hubungan aksiologi dengan epistimologi yaitu mengenai etika, bahwa etika itu merupakan cara.
• Hubungan aksiologi dengan aksiologi yaitu mengenai baik buruknya tentang baik dan buruk. Menyampaikan suatu kebaikan dengan cara yang baik pula. Misalnya dalam ritual jawa dalam pernikahan dekornya diberi tebu yang mempunyai makna anteping kalbu dengan maksud agar mempelai saling menyayangi satu sama lain.
Setiap orang mempunyai batasan, termasuk ketika ia berpikir. Sebenarnya dimana batas pikiran kita?? Dalam filsafat dijelaskan bahwa batas pikirku ada di dalam hatiku. Ketika seseorang tidak membatasi pikiranyya dengan hati maka pikiranyya akan kemana-mana sampai-sampai ia tidak lagi percaya adanya Tuhan. Sebenarnya hakekat mitos itu apa?? Mitos mempunyai banyak arti yaitu mitos dalam arti luas, sempit, dalam dan dangkal. Contoh dari mitos primitive yaitu percaya bahwa pohon mangga ada penunggunya. Tetapi mitos tidak selalu buruk, contohnya pada acara pernikahan jawa ada tebu yang mempunyai maksud baik yaitu agar si mempelai saling menyayangi satu sama lain.
Yang membuat seseorang tertarik untuk belajar filsafat salah satu diantaranya adalah karena berawal dari suka dengan suatu hal yang berhubungan dengan diskusi dan mempunyai pemikiran yang selalu ingin tahu lebih jauh. Berfilsafat melatih kita untuk berfikir kritis. Kunci dari belajar filsafat adalan banyak membaca.
Apakah khayalan tingkat tinggi itu termasuk sadar atau tidak sadar?? Berfikir diawali dengan kesadaran lalu diikuti dengan “kesadaran tentang hal apa”. Sadar ada dua yaitu sadar kedalam dan sadar keluar. Sadar kedalam yaitu berefleksi atau berfilsafat sedangkan sadar keluar yaitu berkhayal(separuh dunia yang berarti).
Wednesday, May 11, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment