Thursday, April 14, 2011

Hubungan titik dengan ruwatan

Saya bisa mempunyai kesadaran di dalam ruang dan waktu. Dimana dengan kesadaran tersebut saya bisa memberi makna segala sesuatu. Di sini saya mengambil contoh sebuah titik. Dari sebuah titik kita bisa memberikan makna misalnya sebagai potensi dan fakta. Sebagai potensi titik meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dalam dunia abstraksi yang diterangkan dengan ideal titik bisa berpotensi menjadi garis, bidang, lingkaran, balok, kubus, dan bahkan bisa berpotensi menjadi segala macam bentuk yang tak beraturan. Titik hanya salah satu yang ada dan yang mungkin ada yang diabstraksi yang melengkapi saya dalam membangun dunia.
Kesadaran selalu berkembang menurut ruang dan waktunya. Misalnya dalam pendidikan : titik dan garis adalah separuh dunia, sedangkan separuh dunia yang lain bisa berarti bak atau kubus yang berisi air, bisa juga berarti bongkahan batu dari gunung berapi.
Limas terpancung yang ada di balok ada dalam kenyataan sedangkan limas terpancung yang ada di batu nisan ada dalam pikiran. Karena ada pikiran dan kenyataan maka muncul mitos dan logos.
Bagi yang tidak pernah membaca elegi dan tidak pernah comment maka akan selalu berfikir mitos, misalnya dalam kepercayaan orang jawa jika punya tiga anak dan anak laki-laki diapit oleh anak perempuan (sendang kapit pancuran) maka menurut kepercayaan orang jawa, itu tidak baik dan harus diruwat, jika tidak diadakan ritual ruwatan maka akan dimakan batara kala atau akan bernasib buruk, jadi harus diruwat misalnya dengan mengadakan wayangan satu malam suntuk. Ada lagi mitos jawa misalnya masyarakat jawa yang mempunyai anak perempuan tidak pernah merawat bunga bougenville karena menurut mitos anak perempuannya tidak akan berbunga. Yang ada dan yang mungkin ada melekat pada diri kita sendiri dari atas sampai bawah.
Kebudayaan jawa tidak sepenuhnya adalah mitos, semuanya tergantung dari diri kita masing-masing apakah mau dijadikan tuntunan atau tontonan..

No comments:

Post a Comment